-->
Powered by Blogger.
Showing posts with label Jelajah Negeri. Show all posts
Showing posts with label Jelajah Negeri. Show all posts

PSK Pantai Palabuhan Ratu Masih Dicari Para Hidung Belang

Oleh: Admin

BANDUNG, Jurnalc: Menurut pantauan tim Jurnalc di dunia maya, terdapat beberapa pihak yang masih mencari keberadaan Pekerja Seks Komersial (PSK) di tempat wisata pantai Palabuhan Ratu. Ini dibuktikan dengan ditemukannya kata kunci mesin pencari Google pengunjung portal kami.
Beberapa kata kunci mesin pencari google pengunjung prtal kami (Admin)
Kesimpulan ini kami tulis berawal dari pendeteksian berita oleh tim tentang posting ‘Dibalik Keindahan Pantai Palabuhan Ratu’. Kami mendapati pengunjung yang tengah mencari tempat para PSK berlapak di area tersebut. Bahkan, ada pengguna internet yang mencari tahu tentang harga pelayanan PSK di sana.

“ini sangat disesalkan, mengingat Palabuhan Ratu adalah tempat wisata, bukan tempat berbuat hal yang bernada gelap,”ungkap salah satu warga kabupaten Sukabumi, Opay.

Ia juga mengungkapkan, kini yang bisa dilakukan adalah mengadu pada pemerintah setempat dan menunggu area tersebut dibenahi dengan bersih terkait hal ini. (fau)

Di Balik Keindahan Pantai Pelabuhan Ratu

Oleh: Naufal Fauzy

SUKABUMI, Jurnalc: Pelabuhan Ratu merupakan salah satu wisata pantai yang paling diminati oleh wisatawan. Dibalik kekurangannya tersimpan Sejuta Pesona yang menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik pengunjung. Dari dulu hingga sekarang pantai Pelabuhan Ratu tetap menjadi salah satu icon di Sukabumi.
(foto:web)
Walaupun banyak kekurangan seperti sampah yang merusak pemandangan, pantai ini menyimpan berbagai pesona yang sangat menarik dibalik kekurangannya, baik pesona alamnya maupun legendanya. Kekurangan itupun tidak jadi masalah bagi wisatawan setelah mereka melihat indahnya pemandangan alam disana. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama yang dilakukan wisatawan.

Di kawasan Sukabumi, tidak hanya terdapat wisata pantai saja yang terkenal,seperti Pelabuhan ratu dan Ujung Genteng, tetapi juga ada objek wisata budaya atau sejarah,yaitu yang terdapat di daerah sekitar Jampang, objek wisata religious yang berada di desa Buniayu Gua Siluman dan objek wisata Bibijilan, serta objek yang lainnya. Selain beberapa objek wisata yang disebutkan, ada beberapa tempat wisata lain yang mempunyai peran yang cukup potensial pula dalam kapariwisataan kabupaten Sukabumi.

Namun dari beberapa objek wisata di kabupaten Sukabumi, pantai Pelabuhan Ratu adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Wisata pantai ini tetap menjadi andalan. Hal ini terlihat dari Jumlah wisatawan yang berkunjung. “Walaupun ada banyak tempat pariwisata di Sukabumi, pantai Pelabuhan Ratu tetap menjadi pilihan utama bagi para wisatawan, “ kata Dinas Pariwisata, Sulaiman.

Pulau Biawak Surga Masih Terjaga

Oleh: Novi Adriyanti
INDRAMAYU, Jurnalc: Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan dunia, Indonesia adalah surga bawah laut. Hampir ¾ dari keseluruhan spesies hewan ada di Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai negara 1000 pulau. Bagaimana tidak bagian negara ini terpisahkan oleh lautan dan terpecah menjadi 6 pulau besar dan hampir 17.000 pulau pulau kecil. Tidak dipungkiri Indonesia bagian timur memang surga dari surganya bawah laut.

Terlihat seekor Biyawak melintas di tepi pantai Pulau Biyawak
Hamparan Soft Coral dan Hard Coral yang terjaga serta spesies yang beraneka ragam. Tapi bagi sebagian orang yang tinggal di pulau Jawa untuk berkunjung kesana tidak memakan waktu dan biaya yang sedikit, dari itulah bagi sebagian orang harus pintar pintar mencari cara lain untuk menikmati indahnya bawah laut Indonesia.

“Dimana kita bisa menemukan spot bawah air dan pulau yang tidak jauh dari Jakarta dan tidak memakan banyak waktu serta biaya?” pertanyaan yang mungkin sering mengisi kepala bagi sebagian traveler atau backpacker atau jejalan yang juga seorang pekerja mungkin yang tidak memiliki banyak waktu.

Jawabanya adalah Pulau Biawak, pulau yang berada pada 5.926142°LS 108.379898°BT di 40km Utara pesisir Jawa Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak pulau Indah yang ada di Indonesia. Masuk kedalam administratif Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Pulau Biawak menawarkan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat lainnya di Indonesia. Memang masih jarang orang mendengar atau mengetahui pulau ini. Nama Biawak diberikan oleh nelayan sekitar yang hendak istirahat atau singgah dipulau ini yang kemudian oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu diubah dan disahkan namanya menjadi Pulau Biawak.

Biawak atau nama latinnya Varanus salvator berjumlah ratusan dalam berbagai ukuran ini hidup di hutan lembab Pulau Biawak. Predator yang masih bersaudara dengan komodo ini masih dipertanyakan tentang asal muasal keberadaannya. Banyak mitos yang berkembang mengenai hal ini. Banyak juga cerita cerita yang bisa anda dapatkan saat mengetik pulau Biawak pada teksboks pencarian search engine google. Saat saya bertanya kepada pak Sumanto, beliau pun belum benar benar mengerti kapan dan oleh siapa dan bagaimana biawak bisa ada dipulau tersebut.

Nama awal pulau ini adalah Pulau Byompies yang diberikan oleh pemerintah Belanda saat itu pimpinan Z. M. Willem III. Pemerintah Belanda juga membangun mercusuar setinggi 65 meter pada tahun 1872, sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi sebagai tanda kapal kapal yang melintas disekitar pulau Biawak. Mungkin ada akan bertanya, jika mercusuar masih digunakan maka ada yang mengoperasikan dong? ya betul. Penghuni tetap disana adalah seorang pegawai Departemen Perhubungan Laut bagian Navigasi. Pak Sumanto namanya, sudah bekerja di Departemen Perhubungan sejak tahun 80 kemudian dikirim ke Pulau Biawak pada tahun 1988. Beliau berstatus pegawai negeri yang tinggal disana dalam kurun waktu tertentu untuk mengoperasikan, merawat mercusuar untuk kepentingan perjalanan laut.

Di pulau Biawak itu juga sering dikunjungi para pendatang yang melakukan ritual ritual tertentu di pulau ini, karena aroma mistis di pulau ini juga masih sangat kental. Ditambah ada Makam Seorang Syeh yaitu Syeh Sharif Hasan, kemudian sumur tua berwarna merah, makam seorang Belanda yang tidak dikenal, tetapi “Dimana Bumi berpijak disitu Langit diJunjung“.

Kepulauan Biawak terdapat 3 pulau yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong, dan Pulau Candikian. Pulau Biawak pulau yang terdekat dari pesisir Jawa. untuk mencapai pulau Gosong ditempuh dalam 1 jam dengan cuaca laut normal menggunakan kapal tradisional. dan sekitar 1 jam untuk menuju ke pulau Candikian.

Pulau Gosong, pulau ini lebih kecil dan tidak berpenghuni, tidak seperti pulau Biawak yang masih tertutup hutan, mangrove dan hewan lainnya. Di Pulau Gosong hanya tersisa tanaman pantai. Pulau ini terlihat seperti pasir lautan yang terangkat saat laut surut. Pulau ini sangat menakjubkan, karena hanya beda satu langkah dari bibir pasir pulau air lautan berisi hamparan coral yang luas, benar benar luas dan dangkal. Jadi kita harus hati hati jangan sampai merusak biota laut jika kita ingin melihat snorkling biota laut tersebut “Don’t Ever ever touch Them“

Pulau Candikian, pulau ini berada di paling utara dari gugusan 3 pulau. Pulau Candikian sekarang tidak lagi berbentuk pulau, dataran yang dulu ada sekarang sudah tenggelam oleh air laut. yang tersisa hanya hamparan karang dangkal seperti Pulau Gosong. (Fau)

Curug Cinulang, Objek wisata yang Terlupakan

Oleh: Ramadhan Setia Nugraha

BANDUNG, Jurnalc: Curug Cinulang adalah salah satu  objek wisata yang menyuguhkan panorama air terjun yang berada di daerah Jawa Barat. Terletak di perbatasan kabupaten Bandung dan kabupaten Garut, Jawa Barat. Meskipun demikian, namun secara administratif curug cinulang terletak di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Bandung.
(web)
Objek wisata ini cukup mudah untuk dikunjungi, terletak sekitar 38 kilometer dari kota Bandung. Dari tol purbaleunyi kita tinggal berkendara ke arah Garut, tepatnya sebelum kita memasuki kawasan Nagrek, ada papan petunjuk tentang lokasi wisata Curug Cinulang. Cukup menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer saja dari papan petunjuk tersebut. Namun untuk bisa sampai ke tempat tujuan wisata akses yang digunakan terbilang minim, tidak ada angkutan kota namun jangan khawatir kita bisa menggunakan ojeg meskipun masih terbilang jarang, maka dari itu dianjurkan sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi supaya bisa sampai ke tempat tujuan dengan mudah.

Angin sepoi-sepoi akan segera menyergap tubuh anda ketika berjalan menuju tempat wisata Curug Cinulang. Ya, kita akan disuguhi panorama alam pegunungan yang indah dan udara yang sangat sejuk, karena daerah menuju Curug Cinulang merupakan daerah pegunungan.

Harga tiket masuk terbilang sangat murah, cukup dengan  membayar Rp.2000 kita sudah bisa masuk dan menikmati objek wisata Curug Cinulang, setara dengan harga parkir kendaraan bukan? Kurang lebih sekitar 100 meter dari loket, kita bisa melihat air terjun yang terdiri dari dua aliran, besar dan kecil. Aliran kecil merupakan pecahan dari air terjun utamanya.

Air terjun yang berasal dari sungai citarik ini terkenal dengan aliran air yang sangat deras karena memiliki ketinggian sekitar 50 meter, sehingga pengunjung tidak akan berani berdiri tepat dibawah air terjun tersebut. Biasanya para pengunjung hanya berenang disungai atau sekedar berfoto-foto sambil menikmati sensasi cipratan air yang di timbulkan air terjun itu.

Selain objek wisata air terjun, anak-anak juga bisa bermain di arena taman bermain yang letaknya berada diatas bukit seberang sungai citarik. Saking indahnya, objek wisata Curug Cinulang, musisi sunda Yayan Djatnika menciptakan lagu yang berjudul "Curug Cinulang". 

Namun masih ada beberapa hal yang sangat memprihatinkan terkait objek wisata Curug Cinulang, yakni air yang keruh dan sampah yang menumpuk disekitar air terjun. Hal ini terjadi karena air sudah terkontaminasi oleh pedesaan yang terdapat diatas aliran sungai citarik tersebut, selain itu mushala yang terdapat di lokasi objek wisata terlihat kurang terurus.

Dalam hal ini perlu adanya perhatian pemerintahan setempat terkait pemeliharaan, dan peninjauan kembali supaya gairah sektor pariwisata kota Bandung kembali meningkat. Setidaknya masyarakat tidak akan melupakan objek wisata Curug Cinulang, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?(Fau)

Muhamad Faisal Al'ansori

Adat dan Budaya Penduduk di Kampung Pulo



Berwisata sambil  belajar nampaknya merupakan sebuah kegiatan yang sangat menarik. Apalagi jika belajarnya mengenali sebuah budaya yang memiliki keunikan tersendiri, pasti sangat menarik untuk dicoba. Seperti  tugas yang diberikan oleh salah satu dosen saya untuk meliput tentang kebudayaan penduduk kampung Pulo yang terletak di Desa Cangkuang, Kec. Leles kabupaten Garut.Suasana alam yang damai dan hijaunya pepohonan begitu menampakan pemandangan yang sangat menggugah hati. Lalu hamparan situ (danau) Cangkuang, seolah menyambut dengan ramah atas kedatangan rombongan bus kami yang telah lebih dari 2 jam melakukan perjalanan dari Bandung. Situ Cangkuang merupakan sebuah tempat wisata alam. Selain wisata alam, disini juga terdapat sebuah perkampungan yang memiliki sedikit penduduk namun memiliki kebudayaan yang sangat unik dibandingkan dengan kebudayaan – kebudayaan lainnya yang ada di Indonesia.
Perjalanan selanjutnya adalah  menyebrangi situ Cangkuang menggunakan rakit menuju Kampung Pulo yang berada di tengah – tengah situ tersebut. Berada di tengah situ, di atas sebuah rakit dan dikelilingi oleh pemandangan gunung – gunung yang menjulang tinggi ke awan menjadikan kegiatan ini begitu mengesankan. Kurang lebih 10 menit berada di atas rakit, rakit pun menepi ke sebuah pulau kecil. Kami pun segera bergegas menuju sebuah bangungan yang tinggi, berwarna hitam yang berukir. Ya, tidak lain dan tidak bukan bangunan tersebut adalah Candi Cangkuang. Untuk menuju candi tersebut, kami melewati rumah penduduk yang menetap di Kampung Pulo.
Sekilas Tentang Kampung Pulo
Orang yang pertama singgah di Kampung Pulo adalah Syeikh Arif Muhammad / Maulana Ifdil Hanafi. Arif Muhammad berada di tempat tersebut karena pelariannya atas kegagalan misi melawan VOC di Batavia yang ditugaskan oleh kerajaan Mataram. Daripada pulang ke kerajaan Mataram dengan misi yang gagal, akhirnya Arif Muhammad berkelana dan singgah di Kampung Pulo. Disini ia menyebarkan agama islam ke penduduk setempat. Ia  menikah dan mempunyai 7 orang anak, 6 orang perempuan dan 1 orang laki – laki. Di Kampung Pulo ini ini hanya terdapat 7 bangunan, yaitu hanya ada 6 rumah dan sebuah mushola. 6 rumah tersebut melambangkan ke-6 anak perempuan dari Syeikh Arif Muhammad. Sedangkan mushola melambangkan seorang anak laki – laki nya.  Ia  menamai tempat singgah yang kelak menjadi tempat tinggalnya tersebut dengan nama Kampung Pulo, karena tempat tersebut berada di tengah – tengah Situ Cangkuang. Percis di dekat candi terdapat sebuah bangunan musium yang di bagian depan nya terdapat balai yang diperuntukan bagi pengunjung yang ingin bertanya kepada penjaga musium tersebut mengenai sejarah Kampung Pulo. Saya dan teman – teman yang lainnya singgah di balai tersebut dan berincang dengan penjaga musium tersebut. Ia selalu menjawab dengan lugas dan tegas atas pertanyaan- pertanyaan yang kami ajukan. “ Dahulu, anak laki – laki Syeikh Arif Muhammad meninggal dalam sebuah kecelakaan. Pada saat itu anak tersebut sedang diarak berkeliling menggunakan semacam permainan sisingaan dalam rangka acara khitanan. Pesta arak – arakan tersebut diiringi oleh musik gamelan. Ketika sedang diarak, tiba – tiba turun hujan lebat disertai angin puting beliung. Kemudian anak tersebut jatuh dan tidak lama setelah kecelakaan, anak tesrsebut meninggal” beliau memaparkan. Lalu  yang tersisa hanyalah 6 anak perempuannya. “Oleh karena itu, ada sebuah pantrangan / larangan yang tidak boleh dilakukan di Kampung Pulo ini, yaitu tidak diperbolehkan membawa / membunyikan alat gamelan terutama gong” tambah nya. Karena meninggalnya anak laki – laki tersebut, sistem kerebatan penduduk di Kampung Pulo pun menganut sistem matrilineal, suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Suatu sistem kekerabatan yang bertolak belakang dengan adat sunda. Karena pada umumnya suku sunda menganut sistem kekerabatan patrilineal, kebalikan dari sistem kekerabatan matrilineal. “Setiap satu rumah, harus ada satu kepala keluarga. Dan jika ada anggota keluarga yang menikah, baik perempuan maupun laki – laki, mereka harus keluar dari Kampung Pulo dan mereka diperbolehkan kembali lagi apabila di Kampumg Pulo ada salah satu kepala keluarga yang pindah atau meninggal” tuturnya. Itulah keunikan adat dan budaya di Kampung Pulo. Pada perkembangan selanjutnya Syeikh Arif Muhammad meninggal dan dimakamkan di sekitar komplek candi tersebut.
Candi Cangkuang sendiri ditemukan pada tahun 1966 dan berada di permukaan tanah yang lebih tinggi di dekat rumah adat penduduk. Candi Cangkuang tidak berbentuk asli, karena candi tersebut sudah magalami beberapa kali pemugaran. Di dekat candi juga terdapat sebuah musium kecil. Di dalam nya terdapat beberapa peninggalan sejarah yang sangat bernilai tinggi, seperti ayat – ayat al qr’an yang ditulis di kulit pohon yang telah berusia ratusan tahun, tulisan – tulisan kuno yang menggunakan aksara sunda, naskah ceramah sholat jum’at yang panjang nya kurang lebih serta alas al qur’an yang terbuat dari kayu ang telah berusia ratusan tahun pula.
Nilai – nilai positif  yang dapat dipetik dari kegiatan ini adalah dengan kebersamaannya, mereka para penduduk Kampung Pulo selalu berpegang teguh kepada nilai adat dan nilai leluhur mereka dalam melaksanakan kegiatan / aktivitas sehari - hari, tetapi mereka tetap berbaur dengan masyarakat sekitar. Penduduk Kampung Pulo pun perlahan - lahan mulai mengikuti arus perkembangan zaman, seperti sudah menggunakan pakaian yang berasal dari luar dan sudah menggunakan televisi. Tetapi mereka tetap mempertahankan nilai – nilai adat yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.
 Selain kuliah di dalam ruangan, kita juga harus mengenali suatu adat dan budaya lebih dekat lagi yaitu dengan cara turun langsung ke lapangan agar berbaur dengan penduduknya sehingga kita dapat mengenal dan mengetahui sejarah dan kebiasaan adat dan budaya tersebut lebih detail dan mendalam serta dapat merasakan akan keberagaman dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini. (-MFA-)